Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW

oleh Muhammad Husain Haekal

 [ Index | Bag. 1 | Bag. 2 | Bag. 3 | Bag. 4 | Bag. 5 | Bag. 6 ]

	2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (3/6)
	Muhammad Husain Haekal
 
	"Yang  paling  mulia  di  kalangan  kamu dalam pandangan Tuhan
	ialah yang  paling  takwa  -  yang  dapat  menjaga  diri  dari
	kejahatan."
 
	"Dan  bekerjalah,  nanti  Tuhan  akan  melihat hasil pekerjaan
	kamu, dan balasan diberikan hanya sesuai dengan apa yang  kamu
	lakukan."
 
	Dan  Kebenaran  terbesar  ialah  bahwa  Allah itu Benar, tiada
	Tuhan selain Dia.
 
	Maut, akhir dan  permulaan  hidup.  Akhir  hidup  duniawi  dan
	permulaan  hidup akhirat. Soal hidup duniawi yang kita ketahui
	hanya sedikit sekali. Yang kita ketahui  tentang  hidup  hanya
	yang  berhubungan  dengan  indera  kita, dengan akal kita yang
	membimbing kita, kemudian dengan jantung kita yang  membukakan
	rahasia  hidup  itu kepada kita. Sedang mengenai hidup akhirat
	tak  ada  yang  dapat  kita  ketahui  selain  apa  yang  sudah
	diterangkan  Tuhan  kepada  kita.  Hukum-hukum  alam buat kita
	masih  gelap.  Ilmunya  ada  pada  Tuhan.   Apa   yang   sudah
	diterangkan  Tuhan  dalam  Kitab  Suci  mengenai hal ini sudah
	memadai kiranya, bahwa  itu  adalah  tempat  pembalasan.  Kita
	menyiapkan  diri  kita  dalam dunia ini dengan perbuatan kita,
	dengan kehendak dan niat kita serta sikap  kita  sesudah  itu;
	kita  bertawakal  kepada  Allah  akan adanya balasan yang adil
	itu. Sedang apa  yang  dibalik  itu  soalnya  ada  pada  Tuhan
	semata-mata.
 
	Sudahkah  agaknya  mereka  sependapat dengan Washington Irving
	dari kalangan Orientalis dan diluar Orientalis  dalam  melihat
	sampai   berapa  jauh  kesalahan  mereka  dalam  menggambarkan
	jabariah Islam itu? Yang kita catat disini hanyalah  yang  ada
	didalam Qur'an. Kita tidak ingin menempatkan masalah ini dalam
	suatu perdebatan seperti pendapat ahli-ahli  ilmu  kalam  dari
	kalangan  kaum  sufi  dan  yang lain, termasuk para filsuf dan
	golongan-golongan tertentu dalam kalangan Muslimin. Yang jelas
	sekali  kesalahan  Irving  ialah dugaannya bahwa masalah qadza
	dan qadar (takdir atau nasib) dan  ketentuan  umur  diturunkan
	dan disebutkan di dalam Qur'an sesudah Perang Uhud dan setelah
	terbunuhnya Hamzah sebagai syahid utama.  Pada  hal  ayat-ayat
	yang  sudah  kita  kutipkan  itu ialah ayat-ayat yang turun di
	Mekah  sebelum  hijrah   dan   sebelum   peperangan-peperangan
	dimulai.  Irving dan yang semacamnya telah terjerumus ke dalam
	kesalahan semacam itu sebab mereka tidak mau menyulitkan  diri
	dalam  membahas persoalan yang begitu penting dengan cara yang
	ilmiah dan cermat. Bahkan mereka menggambarkan  Islam  menurut
	konsepsi  yang  sejalan  dengan  kecenderungan  mereka sendiri
	sebagai orang-orang  Kristen,  lalu  mereka  mengarang-ngarang
	dalil  menurut nafsu mereka sendiri, dengan dugaan bahwa dalil
	mereka itu akan sudah meyakinkan pembaca tanpa ada orang  lain
	yang akan membuktikan kesalahan mereka itu.

	Kalau  kalangan  Orientalis dapat memahami arti jabariah Islam
	seperti yang sudah kita gambarkan, niscaya mereka  dapat  pula
	menghargai  konsepsi  filsafatnya  yang  begitu tinggi, begitu
	dalam  melukiskan  hidup  ini   sehingga   dapat   menampilkan
	teori-teori  ilmu  dan  filsafat.  Dan  ini telah dicapai oleh
	pikiran   manusia   dalam   pelbagai   zaman   dengan   segala
	perkembangan  dan  kemajuannya.  Pengertian filsafat Islam ini
	ialah  pengertian  yang  berimbang,  yang  tidak  mempersempit
	pengertian  determinisma,  dunia  sebagai  kemauan dan pikiran
	(die Welt als Wille und  Vorstellung)  dan  evolusi  kreatif.5
	Bahkan  semua  mazhab itu, dalam susunannya mengikuti jalannya
	hukum alam dan kehidupan. Kalau  pun  disini  tempatnya  tidak
	cukup  memadai untuk menjelaskan gambaran ini, namun akan saya
	coba meringkaskannya dengan seteliti dan sejelas mungkin. Saya
	kira  orang  yang  sudah  membaca  apa  yang  saya  tulis akan
	sependapat, bahwa dari semua yang pernah kita ketahui  tentang
	teori-teori,  pengertian  ini  memang  sangat tinggi, luas dan
	dalam sekali. Pengertian ini  kemudian  hari  akan  membukakan
	jalan pada pemikiran umat manusia yang lebih agung.
 
	Sebelum  saya  menjelaskan ini secara ringkas, ada dua masalah
	ingin saya catat dalam hal  ini,  hendaknya  jangan  dilupakan
	pertama dengan ini saya tidak bermaksud hendak menentang teori
	Kristen. Apa yang pernah diajarkan Isa, oleh Islam juga diakui
	seperti  sudah  beberapa  kali  saya  sebutkan dalam buku ini.
	Hanya saja apa  yang  diajarkan  Islam  lebih  menyeluruh  dan
	memahkotai    semua   kenabian   dan   kerasulan   sebelumnya.
	Kitab-kitab Injil telah juga menegaskan kata-kata  Yesus  ini.
	"Janganlah  kamu  menyangka  bahwa Aku datang untuk meniadakan
	Hukum Taurat atau kitab para  nabi.  Aku  datang  bukan  untuk
	meniadakannya  melainkan  untuk  menggenapinya."  Begitu  juga
	keimanan Muslimin kepada Ibrahim, kepada Musa, kepada Isa  dan
	nabi-nabi  yang  lain  sebelum  itu,  semua  sama.  Hanya saja
	kedatangan Islam melengkapi apa yang telah diutus Tuhan kepada
	mereka  itu,  mengoreksl  kata-kata yang telah dibelokkan oleh
	pengikut-pengikut mereka, dari  arti  yang  sebenarnya.  Kedua
	mengenai   filsafat  Islam  yang  diambil  dari  Qur'an  sudah
	dikemukakan orang sebelum saya,  meskipun  tidak  sama  dengan
	yang  saya kemukakan sekerang ini. Hanya saja yang saya tempuh
	dalam hal ini sesuai dengan garis tuntunan Qur'an  dan  dengan
	cara  yang  sesuai  dengan  metoda  ilmiah sekarang. Kalau ini
	berhasil mencapai sasarannya, sudah tentu  karena  rahmat  dan
	karunia  Tuhan  juga. Kalau hasil itu belum juga saya peroleh,
	maka doa yang paling besar saya panjatkan kepada  Tuhan  ialah
	semoga  mereka  yang  berpengetahuan  dapat  memberi  petunjuk
	kepada saya untuk mencapai sasaran itu.
 
	Yang mula-mula ditentukan oleh Qur'an ialah bahwa Tuhan  sudah
	menentukan  hukum  tertentu dalam alam semesta ini, yang tidak
	berubah-ubah dan bertukar-tukar. Sudah tentu  alam  itu  bukan
	hanya  planet  kita  ini saja dengan segala isinya, Juga bukan
	terbatas hanya pada apa yang tertangkap oleh pancaindera  kita
	saja  yang  terdiri  dari planet-planet dan tata surya, tetapi
	alam itu ialah segala yang diciptakan Tuhan,  yang  dapat  dan
	yang tidak dapat dirasakan - sensibilia dan insensibilia, yang
	nyata dan yang gaib. Untuk  mengetahui  hal  ini  benar-benar,
	cukup  kalau  kita  bayangkan  bahwa pengetahuan yang ada pada
	kita memang sedikit sekali: eter yang ada di sekitar kita  dan
	sekitar  tata  surya yang lain, listrik yang memenuhi eter dan
	memenuhi bumi kita, jarak yang  begitu  jauh  memisahkan  kita
	dari  matahari  dan  planet-planet  lain  yang lebih jauh dari
	matahari, dan di balik planet-planet itu yang jaraknya  sampai
	ribuan tahun cahaya lebih jauh dari matahari.6
 
	Kemudian,  dibalik  semua itu yang tiada terbatas, yang takkan
	dapat dijangkau oleh imajinasi kita, dan yang halnya ada  pada
	Tuhan ilmunya    semua  itu  berjalan menurut hukum yang sudah
	pasti tak berubah-ubah. Apa yang sudah kita ketahui semua  ini
	berdasarkan  data  ilmiah menurut istilah kita sekarang - yang
	tidak mencampur adukkan fantasi dengan fakta.  Kemudian  fakta
	itu  disamping  fantasi  menjadi makin kecil sampai sedemikian
	rupa, kemudian fakta itu masih tinggal sejauh yang dapat  kita
	ketahui,  yang  dapat  kita  ukur menurut ukuran kita, dan apa
	yang kita peroleh dengan dasar itu,  itulah  yang  kita  sebut
	hukum  alam  dan  kehidupan. Kalau kita mau melepaskan fantasi
	kita sebebas-bebasnya untuk menggambarkan betapa kecilnya  apa
	yang  kita  ketahui itu, tentu contohnya akan banyak sekali di
	hadapan kita, sehingga ruangan dalam buku ini pun akan terlalu
	sempit  karenanya.  Kita  ambil misalnya penghuni planet Mars.
	Mereka membangun sebuah pemancar dengan  kekuatan  100.000.000
	kilowatt  supaya  dengan  demikian  apa yang terjadi di tempat
	mereka  diperdengarkan  dan  diperlihatkan   melalui   pesawat
	televisi  kepada kita penghuni bumi ini. Sesudah itu, dapatkah
	kita menahan pikiran kita? Sedang Mars  bukanlah  planet  yang
	terjauh  jaraknya dari kita, juga bukan yang paling sulit akan
	dapat kita hubungi.
 
	Pengetahuan kita tentang alam ini yang hanya  sedikit  sekali,
	segala  yang  ada  dalam alam itu memberi pengaruh juga kepada
	kehidupan bumi kita dengan segala isinya. Andaikata satu  saja
	dari  planet-planet  itu  dengan  ketentuan dari Tuhan berbeda
	edarannya, tentu hukum alam itu akan jadi berubah, dan berubah
	pula  hidup kita yang pendek dan sedikit ini, terpengaruh oleh
	keadaan di sekitar  kita,  oleh  hal-hal  yang  tiada  penting
	sekalipun. Hidup itu terpengaruh dan tunduk kepada kodrat alam
	karena  peristiwa-peristiwa  alam  yang   besar-besar.   Dalam
	menerima  pengaruh  itu  kadang  ia menjurus kepada yang baik,
	kadang malah menyimpang. Baik dalam tujuan  yang  menjurus  ke
	arah  yang baik atau yang menyimpang, dalam kedua hal itu atas
	dasar yang mempengaruhinya tidak didorong  oleh  faktor-faktor
	kehidupan saja melainkan juga oleh kesediaannya dalam menerima
	pengaruh kehidupan itu serta kekuatan yang timbal-balik saling
	mempengaruhi.  Ada beberapa faktor tertentu yang dapat memberi
	pengaruh besar dan beranekarupa kedalam jiwa  orang.  Kemudian
	pengaruh-pengaruh  itu  akan  saling  terdesak ke sudut. Salah
	satu diantaranya akan  jadi  juru  pemisah,  akan  jadi  batas
	antara yang baik dengan yang jahat. Yang selebihnya, yang satu
	akan menjurus kepada yang baik, yang lain kepada yang jahat.

	Adanya yang baik dan yang jahat dalam kehidupan ini tidak lain
	ialah  suatu  akibat  saja  dari adanya saling pengaruh antara
	faktor-faktor  kehidupan  dengan  jiwa  manusia.  Oleh  karena
	itulah  yang  baik dan yang jahat itu sudah merupakan sebagian
	dari gejala hukum yang sudah  pasti  dalam  alam  ini.  Adanya
	kedua  sifat  baik  dan  jahat  ini sudah pula merupakan suatu
	keharusan, seperti halnya  dengan  negatif  dan  positif  yang
	merupakan suatu keharusan adanya listrik. Demikian juga adanya
	beberapa macam kuman sudah  merupakan  keharusan  hidup  dalam
	tubuh manusia.
 
	Tidak  ada  suatu  kejahatan  hanya  untuk kejahatan saja atau
	kebaikan hanya untuk  kebaikan  saja;  tetapi  itu  tergantung
	kepada maksud yang menjadi tujuannya serta akibat yang terjadi
	karenanya. Adakalanya terjadinya kejahatan  dan  kebaikan  itu
	karena  keharusan yang mendesak sekali. Alat-alat perusak yang
	digunakan dalam peperangan untuk menghancurkan jutaan manusia,
	memusnakan  karya-karya ciptaan manusia yang sungguh agung dan
	indah, diwaktu damai besar sekali artinya. Kalau tidak  karena
	dinamit  manusia takkan mampu membelah terowongan dan memasang
	jalan  kereta   api   didalamnya,   takkan   mampu   menemukan
	tambang-tambang   yang  berisikan  harta  karun  terdiri  dari
	batu-batu dan logam yang  sangat  berharga.  Begitu  juga  gas
	beracun  yang  dilepaskan  orang  yang sedang berperang kepada
	penduduk sipil dari bangsa yang diperanginya dan yang dianggap
	sebagai suatu cemar dan cacat besar kepada perikemanusiaan dan
	sebagai suatu manifestasi  kebiadaban  dan  kepengecutan  yang
	tiada taranya, dimasa damai gas ini besar sekali faedahnya; ia
	dapat mengabdi kepada perikemanusiaan, menolong  umat  manusia
	dari  pelbagai penyakit menular yang cukup mengerikan. Gas ini
	juga yang dapat menjernihkan air dari  kuman-kuman  berbahaya,
	seperti  gas  chlorine  misalnya.  Dalam  dunia  perkapalan ia
	berguna sekali karena sebagian dapat digunakan  membasmi  hama
	tikus  dan  sebagian  lagi  dapat  membahayakan kehidupan para
	nelayan. Dahulu kala orang membayangkan, bahwa ada jenis-jenis
	serangga,  burung  dan  binatang-binatang yang sama sekali tak
	ada gunanya. Tetapi kemudian setelah diselidiki dan dipelajari
	betapa  besar  manfaat  serangga-serangga,  burung-burung  dan
	binatang-binatang itu buat  manusia.  Negara  pun  telah  pula
	membuat  undang-undang  memberikan  suaka  dan  melarang orang
	membunuh  atau  memburunya,  mengingat  betapa   menguntungkan
	makhluk-makhluk  itu  untuk  umat  manusia.  Mereka yang telah
	mempelajari makhluk-makhluk ini melihat bahwa  makhluk-makhluk
	ini  ingin  damai, ingin sekali menyesuaikan diri dengan dunia
	disekitarnya  dalam  batas-batas   ia   dapat   mempertahankan
	eksistensinya,   supaya   dapat  pula  ia  mengimbangi  adanya
	kebaikan yang harus dipelihara.  Binatang-binatang  ini  tidak
	mengganggu,  kecuali  bila hendak membela diri, bila ada pihak
	yang menyerangnya atau yang mengganggunya.
 
	Juga  perbuatan-perbuatan  kita  sebagai  manusia  tidak   ada
	kebaikan  hanya untuk kebaikan saja atau kejahatan hanya untuk
	kejahatan saja; tetapi yang ada, semua itu  tergantung  kepada
	maksud  yang  menjadi  tujuannya  serta  akibat  yang  terjadi
	karenanya. Bukankah pembunuhan itu suatu perbuatan  dosa  yang
	dilarang?  Sungguhpun  begitu  dalam melarang pembunuhan Tuhan
	berfirman:
 
	"Dan janganlah kamu membunuh yang oleh Tuhan  sudah  dilarang,
	kecuali  jika  atas  dasar  kebenaran."  Membunuh  atas  dasar
	kebenaran tidak berdosa. "Dengan  hukum  qishash  itu  berarti
	suatu kelangsungan hidup bagimu, hai orang-orang yang mengerti
	..."
 
	Algojo yang membunuh  seorang  penjahat  yang  telah  dijatuhi
	hukuman   mati,  orang  yang  membunuh  karena  membela  diri,
	prajurit yang membunuh karena membela tanah air, orang beriman
	yang   membunuh  supaya  jangan  digoda  orang  dan  keyakinan
	agamanya - mereka semua tidak melakukan perbuatan dosa,  tidak
	melakukan  pelanggaran.  Tidak lebih mereka hanya menyampaikan
	tugas yang telah diwajibkan Tuhan kepada mereka,  dan  balasan
	untuk  mereka  pun  sebagai  orang-orang  yang  telah  berbuat
	kebaikan.
 
	Apa  yang  berlaku  terhadap  pembunuhan  itu,  berlaku   juga
	terhadap  yang  lain,  terhadap perbuatan-perbuatan yang silih
	berganti antara yang baik  dengan  yang  jahat.  Sarjana  yang
	telah menemukan alat-alat perusak untuk kepentingan pertahanan
	tanah air, atau alat-alat perusak yang dapat  memberi  manfaat
	kepada dunia di masa damai, orang yang membuat senjata, setiap
	pekerja, setiap orang di muka  bumi  ini,  apakah  ia  bekerja
	untuk  melakukan  pekerjaan  baik  atau melakukan pelanggaran,
	tergantung kepada sasaran yang menjadi tujuannya serta  akibat
	yang terjadi karena perbuatannya itu.

	Ini  adalah  iradat  dan  undang-undang Tuhan dalam alam. Oleh
	karena dalam menangkap hukum ini manusia yang diciptakan Tuhan
	itu  kesanggupannya  bertingkat-tingkat satu dengan yang lain,
	maka ada orang yang hanya memusatkan seluruh kegiatannya  pada
	"titik" tempat ia dilahirkan, serta berusaha mengembangkan dan
	memeliharanya, ada pula yang bakatnya dalam kerajinan,  sedang
	yang  lain  punya bakat dalam bidang usaha lain - dalam bidang
	kesenian, tehnik, ilmu pengetahuan misalnya, yang tidak begitu
	mudah  bagi  mereka  akan dapat menangkap arti hukum itu. Oleh
	karena mengenal hukum alam itu merupakan  dasar  bagi  manusia
	supaya  ia  dapat  mencapai  tujuan  hidupnya,  maka  ada pula
	diantara mereka yang telah diberi bakat  kenabian.  Yang  lain
	diberi  kesanggupan  untuk menjelaskan ajaran itu kepada kita,
	mana yang baik dan  mana  pula  yang  jahat.  Yang  lain  lagi
	mendapat  karunia  berupa  ilmu  dan pikiran yang akan membuat
	mereka menjadi pewaris para nabi, maka dituntunnya kita kepada
	apa  yang  harus  kita  lakukan  dan apa- pula yang harus kita
	hindarkan. Juga kita  dilengkapi  dengan  tenaga  pikiran  dan
	perasaan,  supaya  kita  dapat menangkap ajaran yang diberikan
	kepada kita. Dengan itu kita dapat melatih  diri  supaya  kita
	dapat  mencapai  tujuan  kita  dalam hidup ini sebaik-baiknya,
	supaya kita dapat mengajak orang  berbuat  baik  dan  mencegah
	melakukan kejahatan.
 
	Sungguhpun  begitu,  apabila  ada  orang-orang yang terjerumus
	dalam hal ini sampai mereka itu melakukan pelanggaran  -  lalu
	untuk  menjaga  eksistensinya  masyarakat  menjatuhkan hukuman
	kepada mereka dengan maksud supaya  pelanggaran  mereka  tidak
	sampai  merugikan  masyarakat  - maka adanya hukuman ini tidak
	berarti suatu jalan buntu untuk mereka bertaubat  dan  kembali
	kepada  kebenaran. Barangsiapa melakukan perbuatan dosa karena
	tidak tahu kemudian ia menyadari  dan,  mau  mengubah  keadaan
	dirinya,  mau  kembali  kepada Tuhan sebagai orang yang patuh,
	Tuhan  akan  mengampuni  dosanya  yang  telah  lampau.  Dengan
	demikian  orang  yang  telah  bersalah  dan  berbuat dosa akan
	mengambil  pelajaran  dari  peristiwa  sejarah  itu  dan  akan
	membersihkan  hatinya.  Ia  akan  kembali  ke jalan yang benar
	dengan penuh taubat, dan Allah pun  akan  menerima  taubatnya,
	sebab Dia Maha Pengasih dan Pengampun.

	Gambaran  kehidupan  demikian ini dapat mempertemukan beberapa
	aliran filsafat yang bermacam-macam, yang tadinya diduga tidak
	akan  dapat  dipertemukan.  Jelas  sekali bahwa eksistensi ini
	suatu kemauan. "Sesungguhnya perintah  Kami  terhadap  sesuatu
	apabila  Kami  menghendakinya  Kami hanya mengatakan kepadanya
	'Jadilah!' maka ia pun jadi." Alam dapat memantulkan apa  yang
	dapat  ditangkap oleh daya rasa dan apa yang tidak. Alam sudah
	mempunyai hukum-hukum tertentu, yang  dalam  batas-batas  ilmu
	kita  yang  nyata  ini  kita  dapat  mengetahui  apa yang akan
	dicapai oleh pikiran kita. Makin bertambah kita berusaha  akan
	makin  bertambah pula penemuan kita tentang alam. Yang menjadi
	dasar hukum alam ialah kebaikan. Akan tetapi kejahatan  selalu
	hendak  melawannya  dan  kadang  sampai hampir mengalahkannya.
	Perlawanan kebaikan terhadap kejahatan,  itulah  yang  disebut
	evolusi  kreatif  yang  telah membawa kemajuan yang luar-biasa
	kepada alam dan umat manusia, sehingga dengan langkah  itu  ia
	telah mencapai kesempurnaannya seperti sekarang ini.
 
	Kita  sudah  melihat,  bahwa  gambaran  ini  mengandung  suatu
	konsepsi  dengan  tujuan  hidup  yang  lebih  sempurna  dengan
	lukisan  yang  begitu  baik yang pernah dikenal oleh pemikiran
	filsafat. Disamping apa yang  sudah  kita  sebutkan,  hal  ini
	menunjukkan  penggambaran Qur'an mengenai evolusi rohani dalam
	kehidupan sejak Tuhan menciptakan bumi dengan  segala  isinya.
	"Tuhan  telah  menciptakan  langit  dan  bumi dalam enam hari,
	kemudian Dia pun berkuasa diatas Singgasana." Adakah enam hari
	ini  sama  dengan  hari-hari  kita  di  bumi ataukah hari-hari
	seperti dalam firman Tuhan:
 
	"Satu hari menurut Tuhanmu sama dengan  seribu  tahun  menurut
	perhitungan kamu." (Qur'an, 22: 47)
 
	                                    			Next >>>
 
	---------------------------------------------
	S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
	oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
	diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
	Penerbit PUSTAKA JAYA
	Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
	Cetakan Kelima, 1980
 
	Seri PUSTAKA ISLAM No.1