Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW

oleh Muhammad Husain Haekal

 [ Index | Bag. 1 | Bag. 2 ]

BAGIAN KEDUAPULUH LIMA: 

HUNAIN DAN TA'IF 

Malik b. 'Auf menghasut - 520; Muslimin berangkat ke Hunain - 521; Serangan Hawazin dan Thaqif - 521; Muslimin kucar-kacir - Ketabahan hati Muhammad - 522;Muslimin kembali bertempur - 524; Kemenangan Muslimin - 525; Kehancuran total pihak Musyrik - 526; Harga sebuah kemenangan - 527; Ta'if dikepung - 528; Diserang dengan manjaniq - 530; Kebun anggur ditebang dan dibakar - Utusan Hawazin meminta kembali tawanan perangnya - 531; Tawanan Hawazin dikembalikan - 533-534.

	               
 
	DENGAN perasaan gembira karena kemenangan yang telah diberikan
	Tuhan,  kaum  Muslimin masih tinggal di Mekah setelah kota itu
	dibebaskan.  Mereka  sangat  bersenang  hati   sekali   karena
	kemenangan   besar  ini  tidak  banyak  minta  kurban.  Setiap
	terdengar suara Bilal mengucapkan azan sembahyang, cepat-cepat
	mereka  pergi  ke  Mesjid  Suci,  berebut-rebutan  di  sekitar
	Rasulullah, dimana saja ia berada dan ke mana saja ia pergi.
 
	Kaum Muhajirin pun sekarang dapat  pulang,  dapat  berhubungan
	dengan  keluarga  mereka,  yang  kini  telah mendapat petunjuk
	Tuhan. Hati mereka pun sudah yakin bahwa keadaan  Islam  sudah
	mulai  stabil,  dan  bahwa  perjuangan  sebagian  besar  sudah
	membawa  kemenangan.  Akan  tetapi  limabelas  hari   kemudian
	setelah  mereka tinggal di Mekah itu, tiba-tiba tersiar berita
	yang membuat mereka harus segera sadar kembali. Soalnya ialah,
	Kabilah  Hawazin  yang  tinggal  di  pegunungan  tidak jauh di
	sebelah timur-laut Mekah, setelah melihat kemenangan  Muslimin
	yang     telah    membebaskan    Mekah    dan    menghancurkan
	berhala-berhala, mereka  pun  kuatir  akan  mendapat  giliran;
	pihak Muslimin akan juga menyerbu daerah mereka. Terpikir oleh
	mereka apa yang harus mereka lakukan  dalam  mencegah  bencana
	yang  akan  menimpa  mereka itu. dan membendung Muhammad serta
	mencegah  arus   kaum   Muslimin   yang   akan   menghilangkan
	kemerdekaan kabilah-kabilah itu di seluruh jazirah bila mereka
	semua digabungkan kedalam  suatu  kesatuan  di  bawah  naungan
	Islam.
 
	Untuk  itu  Malik  b.  'Auf  dari Banu Nashr sekarang berusaha
	mengumpulkan kabilah-kabilah Hawazin dan Thaqif, demikian juga
	kabilah-kabilah  Nashr  dan  Jusyam.  Dari pihak Hawazin semua
	ikut, kecuali Ka'b dan Kilab. Sedang  dari  pihak  Jusyam  ada
	orang  yang  bernama  Duraid  bin'sh-Shimma,  orang yang sudah
	berusia lanjut dan sudah tidak berguna  buat  ikut  berperang,
	tetapi   sebagai   orang   yang   sudah  bertahun-tahun  punya
	pengalaman  dalam  perang,  pendapatnya   sangat   diperlukan.
	Kabilah-kabilah    itu    semua   berkumpul,   membawa   serta
	harta-benda,  wanita  dan  anak-anak  mereka.  Mereka   menuju
	dataran   Autas.   Bilamana   dengusan   unta,   keledai  yang
	melengking, tangisan anak  dan  kambing  yang  mengembik-embik
	sampai ke telinga Duraid, ia bertanya kepada Malik b. 'Auf:
 
	"Kenapa semua harta-benda, wanita dan anak-anak itu ikut serta
	dalam peperangan?"
 
	Malik menjawab bahwa hal itu dilakukan guna  memberi  semangat
	kepada angkatan perangnya.
 
	"Kalau kalian akan mengalami kekalahan mungkinkah hal ini bisa
	mencegahnya?" kata Duraid lagi. "Kalau harus menang juga, maka
	yang  penting  hanyalah  laki-laki dengan pedang dan panahnya;
	sebaliknya kalau kamu harus mengalami kekalahan, keluarga  dan
	hartamu hanya akan membawa bencana."
 
	Dengan  Malik ia berselisih pendapat. Tetapi orang banyak ikut
	Malik. Dia seorang pemuda berusia tigapuluh tahun, bersemangat
	dan  punya  kemauan keras. Sekalipun sudah berpengalaman dalam
	perang, sekali ini Duraid menyerah kepada pendapat mereka.
 
	Sekarang Malik memerintahkan supaya orang berangkat ke  puncak
	gunung  dan  ke  selat  Lembah  Hunain.  Bilamana  nanti  kaum
	Muslimin turun ke lembah itu, maka hendaklah mereka  diserang,
	sehingga  dengan  serangan satu orang saja barisan mereka akan
	sudah  jadi  lemah,  mereka  akan  kucar-kacir,  akan   saling
	menghantami sesama mereka. Dengan demikian mereka akan hancur,
	pengaruh kemenangan  mereka  ketika  membebaskan  Mekah  sudah
	takkan   berarti   lagi.   Yang  ada  nanti  hanya  kemenangan
	kabilah-kabilah Hunain itu saja di seluruh jazirah Arab, suatu
	kemenangan   yang  akan  dapat  dibanggakan  dalam  menghadapi
	kekuatan yang kini menguasai tanah Arab  itu.  Perintah  Malik
	ditaati  oleh kabilah-kabilah dan mereka membuat pertahanan di
	selat wadi itu.

	Pihak Muslimin sendiri setelah dua minggu  tinggal  di  Mekah,
	dalam  persiapan  senjata  dan tenaga yang belum pernah mereka
	alami sebelum itu, dengan pimpinan Muhammad  mereka  berangkat
	pula  cepat-cepat.  Mereka bergerak dalam jumlah duabelas ribu
	orang. Sepuluh ribu terdiri dari mereka  yang  telah  menyerbu
	dan  membebaskan  Mekah  dan  yang  dua ribu lagi terdiri dari
	orang-orang Quraisy yang sudah Islam - di antaranya Abu Sufyan
	b.   Harb.  Mereka  semua  mengenakan  pakaian  berlapis  besi
	didahului  oleh  pasukan  berkuda  dan   unta   yang   membawa
	perlengkapan  dan bahan makanan. Keberangkatan Muslimin dengan
	pasukan demikian ini, sebenarnya memang belum  pernah  dikenal
	di  seluruh  jazirah.  Setiap  kabilah didahului oleh panjinya
	masing-masing, tampil kedepan dengan hati bangga karena jumlah
	yang   begitu   besar,   yang  tidak  akan  dapat  dikalahkan.
	Sampai-sampai antara mereka satu sama lain ada  yang  berkata:
	Karena  jumlah  kita yang besar ini sekarang kita takkan dapat
	dikalahkan.

	Menjelang sore hari itu mereka  sudah  sampai  di  Hunain.  Di
	pintu-pintu masuk wadi itu mereka berhenti dan tinggal di sana
	sampai waktu fajar keesokan  harinya.  Ketika  itulah  pasukan
	mulai  bergerak  lagi. Muhammad mengikuti dari belakang dengan
	menunggang bagalnya yang putih.  Sementara  Khalid  bin'lWalid
	yang  memimpin  Banu Sulaim berada di depan. Dari selat Hunain
	itu mereka menyusur ke sebuah  wadi  di  Tihama.  Akan  tetapi
	sementara   mereka   sedang  menuruni  lembah  itu,  tiba-tiba
	datanglah serangan mendadak  secara  bertubi-tubi  dari  pihak
	kabilah-kabilah  dengan komando Malik b. 'Auf. Sementara masih
	dalam keadaan remang-remang subuh itu  mereka  telah  dihujani
	panah  oleh  pihak  Malik. Ketika itulah keadaan Muslimin jadi
	kacau-balau.  Dalam  keadaan  terpukul  demikian  itu   mereka
	berbalik  surut dengan membawa perasaan takut dan gentar dalam
	hati, dan ada pula yang lari sekuat-kuatnya.  Dalam  hal  ini,
	dengan  senyum  gembira  di  bibir  - Abu Sufyan yang sekarang
	melihat  kegagalan  orang-orang  yang  kemarin   telah   dapat
	mengalahkan Quraisy itu - berkata "Mereka takkan berhenti lari
	sebelum sampai ke laut."
 
	Begitu juga Syaiba b. 'Uthman b. Abi Talha berkata:  "Sekarang
	aku  dapat  membalas Muhammad." Berkata begitu, karena bapanya
	telah terbunuh dalam perang Uhud.
 
	Ketika Kalada b. Hanbal berkata: "Ya, sihirnya sekarang  sudah
	tidak  mempan," dibalas oleh Shafwan saudaranya sendiri: "Diam
	kau! Sungguh aku lebih suka di bawah orang Quraisy daripada di
	bawah Hawazin."

	Percakapan  demikian  itu  terjadi  sementara  keadaan pasukan
	perang sedang kucar-kacir.  Dalam  pada  itu,  kabilah-kabilah
	yang  sedang  mengalami kekalahan itu satu demi satu berlarian
	di hadapan Nabi yang berada di belakang  -  tanpa  melihat  ke
	kanan kiri lagi.
 
	Apa  kiranya  yang  diperbuatnya?  Mungkinkah pengorbanan yang
	duapuluh tahun itu akan hilang dalam sekejap mata begitu  saja
	pada  pagi buta itu? Ataukah Tuhan sudah menjauhinya dan sudah
	tidak lagi memberikan pertolongan?  Tidak!  Tidak!  Ini  tidak
	mungkin!  Sebelum  itu,  sudah  ada  bangsa-bangsa  yang sudah
	punah, golongan-golongan yang sudah tak ada lagi. Sebelum  itu
	pun   Muhammad   sudah   biasa   bergumul  dengan  maut,  dan
	kalau-kalau dalam mati membela agama Allah itu kemenangan akan
	ada.  Dan  apabila  ajal  itu  sudah  datang  tidak akan dapat
	sedetik pun ditunda atau dimajukan.
 
	Muhammad tetap tabah tiada  bergerak  di  tempatnya.  Beberapa
	orang dari kalangan Muhajirin, Anshar serta kerabat-kerabatnya
	tetap berada di sekelilingnya.
 
	Dalam pada itu dipanggilnya orang-orang  yang  melarikan  diri
	lewat di hadapannya itu seraya katanya: "Hai orang-orang! Kamu
	mau ke mana? Mau ke mana?"
 
	Tetapi, orang-orang yang sudah penuh ketakutan itu sudah tidak
	mendengar apa-apa lagi. Yang tergambar dalam mata mereka hanya
	Hawazin dan  Thaqif  yang  kini  sedang  meluncur  turun  dari
	perkubuan   di   puncak-puncak  gunung  mengejar  mereka.  Dan
	gambaran mereka itu tidak salah.  Pihak  Hawazin  sudah  mulai
	turun  dari  tempat  semula,  didahului oleh seseorang di atas
	seekor unta berwarna merah, dan membawa sebuah  bendera  hitam
	yang  dipancangkan  pada  sebilah  tombak  panjang.  Setiap ia
	bertemu dengan pihak Muslimin ditetakkannya tombak itu  kepada
	mereka,  sementara  pihak Hawazin, Thaqif dan sekutu-sekutunya
	terus meluncur turun dari belakang sambil terus menghantam.
 
	Semangat baru timbul dalam hati Muhammad. Dengan bagalnya yang
	putih  itu  ia  ingin menerjang sendiri ke tengah-tengah musuh
	yang  sedang  meluap-luap  seperti  banjir  itu.  Sesudah  itu
	terserah  kepada  Tuhan.  Akan  tetapi Abu Sufyan b. Harith b.
	'Abd'l-Muttalib segera menahan kekang bagal itu dan dimintanya
	jangan dulu maju.
 
	Abbas  b.  'Abd'l-Muttalib seorang laki-laki yang berperawakan
	besar dan lantang sekali suaranya. Ia berseru  yang  kira-kira
	akan  dapat  didengar  oleh  semua orang dari segenap penjuru:
	"Saudara-saudara dari kalangan Anshar  yang  telah  memberikan
	tempat  dan  pertolongan!  Saudara-saudara dari Muhajirin yang
	telah   memberikan   ikrar    di    bawah    pohon!    Marilah
	saudara-saudara, Muhammad masih hidup!"

	Seruan  demikian  itu  diulang-ulangnya  oleh  Abbas, sehingga
	suaranya bersipongang dan bergema  ke  segenap  penjuru  wadi.
	Disinilah  adanya  mujizat  itu:  Orang-orang 'Aqaba mendengar
	nama 'Aqaba, teringat  oleh  mereka  Muhammad,  teringat  akan
	janji  dan  kehormatan  diri mereka. Demikian juga orang-orang
	Muhajirin, begitu  mendengar  nama  Muhajirin,  teringat  oleh
	mereka  akan  pengorbanan  mereka  selama  ini,  teringat akan
	kehormatan  diri  mereka.  Mereka  itu  sudah  mendengar   dan
	mengetahui  tentang  ketenangan  dan  ketabahan hati Muhammad,
	disamping sejumlah kecil  orang-orang  Muhajirin  dan  Anshar,
	yang  sama  tabahnya  seperti  ketika Perang Uhud dulu - dalam
	menghadapi musuh yang begitu besar.  Dalam  hati  mereka  kini
	terbayang  betapa akibatnya kemenangan orang-orang musyrik itu
	terhadap agama  Allah  kelak  sekiranya  mereka  ini  sekarang
	gagal.
 
	Seruan  Abbas  yang  selama itu masih tetap berkemandang dalam
	telinga, hati mereka  sekaligus  tersentak  karenanya.  Ketika
	itulah   mereka   saling   menyambut   dari  segenap  penjuru:
	"Labbaika,1 Labbaika! "
 
	Mereka-semua kini kembali, dan bertempur  lagi  secara  heroik
	sekali.
 
	Pihak Hawazin yang sudah menyusur turun dari tempatnya semula,
	sekarang sudah berhadapan muka dengan  Muslimin  dalam  lembah
	itu.  Sinar  siang  sudah  mulai tampak dan remang pagi dengan
	sendirinya menghilang. Di sarnping Rasulullah  sekarang  sudah
	berkumpul  beberapa  ratus  orang  siap akan berhadapan dengan
	kabilah-kabilah itu. Jumlah mereka  ini  bertambah  juga.  Dan
	dengan  kembalinya  mereka  itu,  semangat  yang tadinya sudah
	lemah  kini  kembali  berkobar-kobar.  Pihak  Anshar   sendiri
	berteriak: "Hai Anshar!" Lalu mereka saling memanggil-manggil:
	"Hai Khazraj!"
 
	Perasaan lega mulai terasa oleh  Muhammad  tatkala  dilihatnya
	mereka kini kembali lagi.
 
	Sementara Muhammad menyaksikan pertempuran itu berkobar dengan
	pertarungan yang semakin sengit dan melihat moril anak buahnya
	makin  tinggi  dalam  memukul  lawan,  ia  berkata:  "Sekarang
	pertempuran benar-benar berkobar. Tuhan tidak menyalahi  janji
	kepada RasulNya."

	Kepada  Abbas  dimintanya  segenggam batu kerikil dan kemudian
	kerikil itu  dilemparkannya  ke  muka  musuh  seraya  katanya:
	"Wajah-wajah  yang  buruk!" Dan terjunlah kaum Muslimin itu ke
	tengah-tengah gelanggang dengan tidak lagi  menghiraukan  maut
	demi  di  jalan  Allah. Mereka percaya, bahwa kemenangan pasti
	datang dan barang siapa gugur ia akan mendapat kemenangan yang
	lebih  besar  lagi daripada hidup. Perjuangan ketika itu hebat
	sekali. Baik Hawazin maupun Thaqif  dan  pengikut-pengikutnya,
	begitu   melihat   bahwa   setiap  perlawanan  ternyata  tidak
	berhasil,  bahkan   mereka   sendiri   terancam   akan   habis
	samasekali,  cepat-cepat  mereka lari dalam keadaan berantakan
	tanpa  melihat  ke  kanan-kiri   lagi,   dengan   meninggalkan
	wanita-wanita  dan anak-anak mereka sebagai rampasan perang di
	tangan kaum Muslimin, yang ketika itu dihitung sebanyak 22.000
	ekor  unta,  40.000  kambing  dan  4.000 'uqiya2 perak. Sedang
	tawanan  perang  yang  terdiri  dari  6.000  orang  itu  telah
	dipindahkan   dengan   pengawalan   ke  Wadi  Ji'rana.  Mereka
	ditempatkan disana sementara  menunggu  Muslimin  kembali  dan
	mengejar  sisa-sisa  musuh  serta  sekaligus  mengepung  pihak
	Thaqif di Ta'if.
 
	Muslimin meneruskan pengejarannya terhadap musuh  mereka  itu.
	Lebih  tertarik  lagi  mereka mengadakan pengejaran itu karena
	Rasul mengumumkan, bahwa barang  siapa  dapat  menyerbu  orang
	musyrik,   maka   ia  boleh  merampasnya.  Ketika  itu  Rabi'a
	bin'd-Dughunna telah dapat mengejar seekor unta  yang  membawa
	pelangkin,   yang   diduganya  berisi  wanita;  ia  pun  ingin
	merampasnya. Unta itu berlutut  dan  ternyata  isinya  seorang
	laki-laki  tua  yang  oleh  pemuda itu tidak dikenalnya, yaitu
	Duraid bin'sh-Shimma. Kepada Rabi'a itu Duraid  bertanya:  Mau
	diapakan   dirinya.   "Akan  kubunuh  kau,"  jawabnya,  sambil
	mengayunkan pedang. Tetapi tidak berhasil.
 
	"Jahat sekali ibumu mempersenjataimu!" kata Duraid.  "Ambillah
	pedangku  di  belakang  itu dan pukulkan. Keluarkan tulang dan
	otaknya. Begitulah aku menghantam orang dengan pedang itu. Dan
	kalau  kau  sudah  pulang,  katakan  kepada ibumu bahwa engkau
	telah membunuh Duraid bin'sh-Shimma. Sudah sering  sekali  aku
	melindungi wanita-wanitamu."
 
	Sesampainya  di  rumah, oleh Rabi'a hal itu diceritakan kepada
	ibunya.
 
	"Dasar tangan celaka kau," kata ibunya.  "Dia  mengatakan  itu
	hanya  akan mengingatkan kita akan jasa-jasanya kepada engkau.
	Dia telah memerdekakan tiga orang ibu pada suatu  pagi:  Yaitu
	aku, ibuku dan ibu ayahmu."
 
	Pengejaran   terhadap   pihak   Hawazin  oleh  pihak  Muslimin
	diteruskan sampai di Autas. Di tempat ini mereka digempur  dam
	dihancurkan  samasekali.  Kaum wanita dan barang-barang mereka
	dirampas lalu dibawa kepada  Muhammad.  Malik  b.  'Auf  hanya
	sebentar  saja bertahan kemudian ia pun lari, dia bersama-sama
	dengan kabilahnya dan  golongan  Hawazin,  dan  di  Nakhla  ia
	berpisah  dengan  mereka.  Ia  memutar  haluan ke Ta'if dan di
	tempat ini ia berlindung.

	Dengan demikian nyatalah sudah kemenangan orang-orang  beriman
	itu  dan  nyata  pula  kehancuran  total  orang-orang musyrik,
	setelah remang-remang subuh itu pihak Muslimin  dalam  keadaan
	terancam,  mendapat  serangan serentak sehingga mereka menjadi
	kacau-balau. Kemenangan Muslimin yang  sangat  menentukan  itu
	ialah karena ketabahan Muhammad dan sejumlah kecil orang-orang
	di sekelilingnya. Dalam hal inilah firman Tuhan turun:
 
	"Tuhan telah menolong kamu  pada  beberapa  tempat  dan  dalam
	Perang Hunain, tatkala kamu merasa bangga sekali karena jumlah
	kamu yang besar. Tetapi ternyata jumlah yang besar itu sedikit
	pun  tidak  menolong kamu, dan bumi yang seluas ini pun terasa
	amat sempit buat kamu, lalu kamu berbalik mundur. Sesudah  itu
	Tuhan  menurunkan  perasaan  tenang  kepada  Rasul  dan kepada
	orang-orang beriman serta diturunkanNya pula balatentara  yang
	tidak  kamu  lihat,  dan disiksanya orang-orang kafir itu, dan
	memang itulah balasan  buat  orang-orang  kafir.  Sesudah  itu
	kemudian    Allah    menerima    taubat    barangsiapa    yang
	dikehendakiNya,   Allah   Maha   Pengampun   dan    Penyayang.
	Orang-orang  beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor.
	Sebab itu sesudah ini, janganlah mereka memasuki Mesjid  Suci,
	dan  kalau  kamu  kuatir  menjadi  miskin,  maka  Tuhan dengan
	kurniaNya  akan  memberikan   kekayaan   kepada   kamu,   jika
	dikehendaki.  Sesungguhnya  Tuhan  Maha  tahu  dan Bijaksana."
	(Qur'an, 9: 25-28)

	Akan tetapi kemenangan ini tidak diperoleh dengan harga  murah
	oleh kaum Muslimin. Mereka membayarnya dengan harga yang cukup
	mahal. Mungkin ini tidak  akan  mereka  lakukan,  kalau  tidak
	karena  pada  mulanya  mereka  telah  mengalami kegagalan lari
	dalam kekalahan, sehingga seperti dikatakan  oleh  Abu  Sufyan
	"Mereka  takkan  berhenti  lari sebelum mencapai laut." Mereka
	membayar harga  mahal  itu  dengan  jiwa  orang-orang  penting
	dengan  pahlawan-pahlawan  yang  gugur  dalam pertempuran itu,
	meskipun jumlah semua kurban tidak disebutkan dalam  buku-buku
	biografi  Nabi.  Seperti  sudah  disebutkan, bahwa dua kabilah
	Muslimin hampir habis binasa, dan Nabi telah mendoakan  semoga
	Tuhan memasukkan arwah mereka ke dalam surga. Tetapi bagaimana
	pun juga nyatanya ia  telah  mendapat  kemenangan:  kemenangan
	total  yang diperoleh Muslimin terhadap lawan mereka, disertai
	rampasan dan tawanan perang, yang  sebelum  itu  tidak  pernah
	mereka   alami.   Kemenangan   adalah  segalanya  dalam  suatu
	pertempuran, betapa pun besarnya  harga  yang  harus  dibayar,
	selama   itu  merupakan  suatu  kemenangan  terhormat.  Dengan
	demikian Muslimin merasa gembira sekali akan kurnia yang telah
	diberikan   Tuhan   itu.  Mereka  tinggal  menunggu  pembagian
	rampasan perang dan dengan itu  mereka  kembali  pulang.  Akan
	tetapi  Muhammad  menginginkan  suatu  kemenangan  yang  lebih
	cemerlang lagi. Kalau Malik b.  'Auf  yang  telah  mengerahkan
	orang-orang,  kemudian  setelah mengalami kekalahan ia sendiri
	mencari perlindungan pada pihak Thaqif di  Ta'if,  maka  pihak
	Muslimin  sekarang hendaknya dapat mengepung Ta'if lebih ketat
	lagi. Begitu itulah cara dalam Khaibar  setelah  perang  Uhud,
	dan  terhadap  Quraiza  setelah  Khandaq.  Mungkin suasana ini
	mengingatkan dia ketika beberapa tahun sebelum Hijrah ia pergi
	ke  Ta'if, menganjurkan Islam kepada penduduk kota itu. Tetapi
	dia malah dicemooh, dan anak-anak  melemparinya  dengan  batu,
	sehingga terpaksa ia berlindung pada sebuah kebun anggur. Juga
	mungkin ia teringat betapa benar  ia  berangkat  seorang  diri
	ketika  itu,  dalam  keadaan  sangat  lemah,  tiada daya upaya
	selain Tuhan, selain  iman  yang  besar  yang  telah  memenuhi
	dadanya,  iman  yang telah dapat meruntuhkan gunung. Sekarang,
	sekarang ia berangkat menuju  Ta'if  dengan  sebuah  rombongan
	Muslimin,  dengan  suatu  jumlah  yang belum pernah disaksikan
	sepanjang sejarah jazirah itu.
	                                    			Next >>>
 
	---------------------------------------------
	S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
	oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
	diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
	Penerbit PUSTAKA JAYA
	Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
	Cetakan Kelima, 1980
 
	Seri PUSTAKA ISLAM No.1