Make your own free website on Tripod.com

Adab Jamuan Makan Test

 [ Sebelum Makan | Ketika Makan | Sesudah Makan | Jamuan Bersama]

 

" Makanlah yang baik-baik dan berbuatlah amal sholih"
(S. Al-Mu’minun, ayat 51)

(Disadur dari kitab Ihya 'Ulumiddin, Imam Al Ghazali rah.)

Menyugukan makanan kepada teman-teman mempunyai banyak keutamaan.
Bersabda Rasulullah SAW, ” Para malaikat Senantiasa mendo’akan kepada seseorang dari kamu, selama hidangannya terletak dihadapannya sebelum diangkatkan." (Ath-Thabrani dari Aisyah, sanad dlaif).
Tersebut pada hadits,”Allah Ta’ala berfirman kepada hambaNya pada hari kiamat :Hai anak Adam! Aku lapar, lalu engkau tidak memberikan makanan kepadaKu. Lalu menjawab hamba itu: bagaimanakah aku memberikan makanan kepada Engkau, sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?Maka Allah Ta’ala menjawab,”Telah lapar saudaramu yang muslim, lalu tidak engkau berikan makanan kepadanya. Kalau engkau telah memberikan makanan kepadanya, maka adalah engkau telah memberikan makanan kepadaKu (Muslim dari Abu Hurairah).
Bersabda Rasulullah SAW,”Sebaik-baik kamu ialah orang yang memberikan makanan kepada orang.” (Ahmad dan AL Hakim dari Shuhaib, shaih isnad).


Adab  Menghidangkan Makanan

  1. Meninggalkan pemaksaan diri (takalluf) dan menyugukan apa yang ada saja. Kalau belum tersedia apa-apa dan tidak mempunyainya, maka janganlah berhutang untuk itu. Karena akan menyusahkan dirinya. Kalau ada tersedia, tetapi ia sendiri memerlukannya untuk makanannya sendiri dan tidak memungkinkan untuk disugukan, maka seyogyanya tidak disuguhkan.

  2. Bagi tamu tidak menyarankan dan tidak bertegas menentukan sesuatu yang tertentu. Karena kadang-kadang sulit bagi yang dikunjungi mengadakannya. Kalau disuruh pilih oleh temannya (tuan rumah) diantara dua macam makanan, maka hendaklah dipilih yang paling mudah diantara kedua macam makanan itu. Begitulah sunnah Rasulullah SAW. Pada suatu hadits, tersebut bahwa Nabi SAW manakala berliau disuruh pilih diantara dua barang, maka dipilihnya yang paling mudah memperolehnya (Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah).

  3. Tuan rumah menyugukan yang disukai temannya yang berkunjung. Dan meminta kepadanya akan saran-saran, manakala dirinya dapat menerima dengan baik, untuk melaksanakan apa yang akan disarankan itu. Yang demikian adalah baik. Bersabda Rasulullah SAW,”Barangsiapa memperoleh dari temannya makanan yang disukainya niscaya diampunkan dosanya. Dan barangsiapa menggembirakan temannya yang mu’min maka sesungguhnya ia telah menggembirakan Allah Ta’ala (Kata Ibnul-Juzi, ini hadits maudlu).

  4. Tidak ditanyakan kepada tamu yang berkunjung itu,”Apakah kami sugukan saudara makanan?” Tetapi seyogyanya disugukan kalau ada,tanpa bertanya. Kalau tidak bermaksud memberikan sesuatu makanan kepada tamu maka seyogyanya tidak dizahirkan kepada tamu.

 


Adab Makan Bersama

1.     Tidak memulai mengambil makanan, bila bersama dengan orang yang lebih penting didahulukan, disebabkan karena tuanya atau lebih keutamaannya. Dan seyogyanya tidak melamakan menunggu apabila mereka telah bersiap dan berkumpul untuk makan.

2.     Tidak berdiam diri ketika makan. Tetapi bicaralah yang ma’ruf (hal-hal yang baik) dan bercerita tentang orang-orang yang shalih, mengenai makanan, dan lainnya.

3.     Berperasaan halus dengan temannya pada pinggan makanan. Maka ia tidak bermaksud melebihi dari yang dimakant emannya. Karena yang demikian itu haram, kalau tidak bersesuaian dengan kerelaan temannya, jika makanan itu berkongsi. Tetapi seyogyanya bermaksud melebihkan temannya. Kalau dilihatnya temannya sedikit makan, maka hendaklah dirajinkan dan digembirakan temannya itu kepada makan dengan dikatakan kepadanya,”Makanlah.” Dan tidak dilebihkan mengatakan itu dari tiga kali. Karena yang demikian sudah merupakan paksaan dan berlebih-lebihan.

4.     Ia tidak memerlukan hingga temannya mengatakan,”Makanlah.” Dan tidak wajarlah meninggalkan (tidak memakan) sesuatu yang disukai lantaran dilihat orang lain kepadanya. Karena yang demikian itu adalah tingkah yang dibuat-buat. Tetapi berlakulah menurut yang biasa dan tidak berkurang sedikitpun dari kebiasannya ketika makan sendirian.

5.     Membasuh tangan pada tempat cuci tangan, tidak mengapa. Dan boleh berdahak kedalam cuci tangan itu jika ia makan sendirian. Jika bersama orang lain, maka tidak wajarlah berdahak. Apabila disuguhi cucitangan oleh oranglain, hendaklah diterimanya karena menghormatinya. Dan tidak mengapa berkumpul membasuh tangan pada satu tempat cucitangan pada satu ketika. Karena itu adalah lebih mendekatkan kepada merendahkan diri dan menjauhkan dari lama menunggu. Kalau tidak mereka perbuat yang demikian maka tidak wajarlah dituangkan air masing-masing. Tetapi dikumpulkan air dalam satu tempat cuci tangan.
Sabda Rasulullah SAW,” Kumpulkan air sembahyangmu niscaya dikumpulkan oleh Allah akan perceraianmu.” (Al-Qudla’I dari Abu Hurairah).

6.     Tidak memandang kepada teman-temanya dan tidak mengintip mereka makan. Lalu mereka malu karenanya. Tetapi hendaklahmemicingkan mata dari teman-teman dan berbuatlah untuk diri sendiri. Dan janganlah menyelesaikan makan sebelum teman-teman, apabila mereka itu malu makan sesudahnya. Tetapi ulurkanlah tangan dan peganglah makanan dengan tangan,s erta ambillah sedikit demi sedikit sehingga mereka selesai. Kalau sedikit makan, berhentilah dulu pada permulaan. Dan sedkitkan makan, sehingga apabila mereka memakan secara meluas, lalu makan dengan merka kembali pada penghabisan. Kalau tidak turut makan, disebabkan sesuatu hal, hendaklah meminta maaf kepada mereka, untuk menghilangkan malu dari mereka.

7.     Tidak membuat apa yang dipandang jijik oleh orang lain. Maka janganlah digerak-gerakkan tangan pada piring makan, dan janganlah ditundukkan kepala kepadanya, ketika memasukkan suap kedalam mulut. Apabila dikeluarkan sesuatu dari mulutnya, hendaklah dipalingkan muka dari makanan, dan diambilnya dengan tangan kiri. Dan jangan dimasukkan suap yang berlemak ke dalam cuka dan jangan dimasukkan cuka ke dalam makanan berlemak, karena kadang tidak disukai orang lain. Dan suap yang dipotongnya dengan giginya, janganlah dibenamkan sisanya kedalam kuah dan cuka. Dan janganlah berkata-kata dengan apa yang mengingatkan orang kepada yang jijik.


Tujuh Adab Pada Tempat Mencuci Tangan

1.     Mendahulukan orang yang diikuti (yang menjadi ikutan banyak orang), dengan tempat mencuci tangan.

2.     Diterima kehormatan dengan penyuguan tempat cuci tangan tersebut

3.     Diedarkan tempat cuci tangan itu kesebelah kanan

4.     Berkumpul padanya orang banyak

5.     Dikumpulkan air kedalam tempat cuci tangan

6.     Pelayan itu berdiri

7.     Diludahkan air dari mulut dan dilepaskan tempat cuci tangan itu dari tangannya dengan pelan-pelan, sehingga tidak terpecik keatas lantai dan teman-temannya. Dan hendaknya disiramkan air oleh tuan rumah sendiri.

bot="HTMLMarkup" endspan bot="HTMLMarkup" endspan bot="HTMLMarkup" endspan bot="HTMLMarkup" endspan