Make your own free website on Tripod.com

HARAM MENGUMPAT (GHIBAH) DAN NAMIMAH (ADU DOMBA)

Disadur dari : Tarjamah Al Adzkar Imam An Nawawi

Mengumpat  dan  mengadu domba, keduanya adalah seburuk-buruk kejahatan dan  yang
paling  banyak  beredar  di masyarakat, oleh karena itu hanya sedikit orang yang
selamat  daripada  keduanya.

Yang  dimaksud  dengan  mengumpat  atau  ghibah ialah menyebut seseorang  dengan
sesuatu   yang  tidak  disukainya.Baik  yang  disebut  itu  ada  pada  badannya,
agamanya,  dunianya,  dirinya,  kejadiannya, akhlaqnya, hartanya, anaknya, orang
tuanya,    istri/suaminya,   pembantu   rumah   tangganya,    pakainnya,    gaya
berjalannya,    gerakannya,   senyumnya,  cemberutnya,  air  mukanya  atau  yang
lainnya.Namanya  tetap  ghibah  baik  yang disebut dengan lisan ataupun tulisan,
atau   yang   berbentuk rumus, isyarat  dengan  mata,  tangan, kepala  atau yang
lain.

Mengumpat  dengan  menyebut bagian badan misalnya, buta, pincang, botak,  hitam;
atau  pada  agamanya  misal  fasik, khianat, dzolim, meremehkan  sholat, durhaka
kepada  orang  tua;  atau  pada  dunianya  misalkan   menyebut  orang lain tidak
beradab,  tidak  peduli  orang,  banyak  omong,  banyak  makan  minum; atau yang
berhubungan  dengan   orang  tuanya  misal  bapaknya  fasik, anak orang kampung,
anak tukang becak; atau  yang berhubungan pakaian seperti mengumpat gembel; atau
mengumpat  yang  berhubungan  dengan   akhlak   seperti  sombong,  pembual, suka
merengut,   keras  kepala,   lemah  hati,   banyak   sangka.Pokok  dari semuanya
adalah  menyebut  orang  lain  dengan sesuatu  yang  tidak  disukainya.

Imam  Abu  Hamid  Al  Ghazali  mengutip  ijma'  ummat  Islam  bahwa  ghibah  itu
ialah   menyebut   sesuatu  yang  tidak   disenangi  oleh  seseorang   ada  pada
dirinya.

Adapun   yang  disebut  namimah  (mengadu  domba)  ialah memindahkan ucapan dari
seseorang   atau   orang  lain   kepada   yang   lainnya  dengan  maksud merusak
mereka.

Hukum  keduanya   adalah   haram menurut  ijma'  seluruh  ummat  Islam. Dalilnya
jelas  tersebut  dalam Al  Qur'an,  Sunnah Rosul  dan  ijma'  ummat  Islam.

Alloh  berfiman:

*....  dan  janganlah  sebagian kamu mengumpat (menggunjing) sebagian yang lain.
(surat  Al  Hujurat  (49)  ayat  12 )

*celaka   bagi   setiap   pengumpat  lagi  pencela.  ( surat  Al  Humazah  (104)
ayat  1 )

*(Janganlah  pula   diikuti)  orang yang  pengumpat  yang  kian  kemari  mengadu
domba. ( surat  Al  Qolam  (68)  ayat 12  )

**Dari  Hudzaifah  ra.  Dari  Nabi  saw. : Tidak  masuk  surga  orang  yang suka
mengadu  domba  (riwayat  Bukhari dan Muslim)

**Dari  Ibnu  Abbas ra. :Sesungguhnya Rosululloh saw. melewati  dua  buah  kubur
maka   Rosululloh  bersabda:   Sesungguhnya  keduanya ini sedang menerima siksa,
keduanya  tidak  disiksa  karena  dosa  besar  (menurut  anggapan mereka).

Menurut  riwayat  lain:,..  bahkan  itu  adalah dosa besar.Adapun  salah satunya
ialah   orang   yang  suka kian  kemari  mengadu  domba  dan satu  yang  lainnya
ialah   orang   yang  tidak   bersuci   dari  kencingnya   (riwayat Bukhari  dan
Muslim)

**Dari  Abu  Hurairah  ra.  Bahwa  Rosululloh  bersabda : Apakah kalian tahu apa
ghibah    itu?   Para  sahabat  menjawab:  Alloh   dan   Rosul-Nya   yang  lebih
mengetahui.   Rosululloh   bersabda:   Ghibah  adalah  kau  sebut  sesuatu  yang
tidak   disukai   oleh  temanmu  tentang dia. Rosul ditanya: Bagaimana bila yang
kuucapkan  itu  memang  betul  ada  pada  temanku itu? Rosul  menjawab: Jika apa
yang   kau   ucapkan  itu   memang   ada  pada   dirinya   berarti   kamu  telah
mengumpatnya.Jika  apa   yang   kamu   katakan   itu   tidak  benar  ada padanya
berarti  kamu   mengada-ada  (memfitnah).  (riwayat  Muslim, Abu  Daud, Tirmidzi
dan An  Nasa'i)

**Dari   Abu  bakrah   ra.:   Sesungguhnya   Rosululloh  saw.   bersabda  ketika
berkhutbah   pada   hari  raya   qurban   di   Mina   sewaktu  mengerjakan  haji
wada'.  Rosululloh   saw. bersabda  : Sesungguhnya  darah  kalian, harta kalian,
kehormatan  kalian   haram   atas  kalian  (mengganggunya)  sebagaimana haramnya
hari   kalian  ini,   dinegeri   kalian   ini  (Mekkah) pada  bulan kalian  ini,
ketahuilah apakah  sudah  kusampaikan?   (riwayat  Bukhari  dan Muslim)

**Dari  'Aisyah  ra.  Ia  berkata:  Aku   berkata   kepada   Rosululloh   saw. :
cukuplah  engkau   katakan   kepada   Shafiyah  begini

?begini?.(sebagian  perawihadits   ini  mengatakan:  -yang  dimaksud   'Aisyah,  ia  pendek-).  Nabi  saw. bersabda  :  Sesungguhnya  kamu  telah  mengucapkan suatu kalimat yang sekiranya dimasukkan  ke  air  laut,  ia  (kalimat  itu)  sanggup  merubahnya (merubah air laut).  'Aisyah  berkata   lagi  :  Kepada Nabi saw.  pernah kuceritakan tentang seseorang,  Nabi saw. bersabda:  Aku tidak  suka  kepadaku  diceritakan  tentang
seseorang   dan   sesungguhnya  aku  begini..begini..   (riwayat   Abu  Daud dan
Tirmidzi , Tirmidzi  menyebut  hadits ini  hasan  shahih )

**Dari   Anas  ra.   Ia  berkata;   Rosululloh  saw.   bersabda   :  Ketika  aku
dimi'rajkan,   kulewati   suatu  kaum   yang   mempunyai  kuku   dari   tembaga,
mencakari   muka-muka dan  dada-dada  mereka.  Aku  berkata  :  -siapakah mereka
itu  wahai  jibril?-  Ia  (jibril)  menjawab:  Mereka  adalah  orang-orang  yang
memakan  daging   manusia   (yang   suka   mengumpat)  dan  menjatuhkan martabat
pribadi  mereka  (riwayat  Abu  Daud)

**Dari   Sa'id  bin  Zaid  ra.  ;  dari  Nabi  saw.  :  Sesungguhnya  riba  yang
paling   besar   ialah   memperdengarkan (membicarakan sehingga  didengar orang)
tentang pribadi seorang muslim  yang  bukan  haknya  (riwayat Abu  Daud)

**Dari  Abu   Hurairah  ra.   Ia  berkata :  Rosululloh  saw.  bersabda :  Orang
Islam itu  saudara  bagi  muslim lainnya,  tidak sepantasnya ia mengkhianatinya,
berdusta    kepadanya,    dan   tidak   pula    pantas   ia   membiarkan   tidak
menolongnya.Tiap-tiap  orang   Islam   haram   pribadinya,  hartanya,   darahnya
diganggu  oleh muslim  lainnya.Ketaqwaan  adalah  di sini.Cukup  bagi  seseorang
mendapat  kejahatan,  jika  ia   menghina   saudaranya   yang  muslim   (riwayat
Tirmidzi dengan derajat hadits  hasan)